Tag Archives:
hikmah
![]() |
| Puisi Waktu. |
Oleh: Magenta Bintang Cakrawala
Malam menggagahi waktuPujaku meminta rahmat-Mu
Genang air mata pada kolam dosa
Sesalku menikam durja
Pagiku menjauh
Siang terbunuh sia
Senjaku sirna tanpa asa
Matilah diriku!
Demi waktu, Tuhan beri kelonggaran
Kumalah ingkar tak jalankan
Tuhan beriku kesempatan
Kumalah siakan berlalu enggan
Sekarang apa mauku?
Selain sujud menggerogoti dosa
Berharap timbunannya tergusur
Ampunan menggiring ke surga
Seribu satu detik
Kubuang waktu tanpa hikmah petik
Tuhan,
jika kau beriku kesempatan kedua
Inginku berbenah diri
Tinggalkan maksiat
Menuju syariat
Namun laku bejat
Jadikanku penjahat
Tuhan,
bersimpuh aku di malam-Mu
Merintih tangis diperbatasan waktu
Bersandar pada dinding-dinding kerapuhan
Biar sesal mengulitiku
![]() |
| Cinta Sang Pejuang Pena (Antologi FLP Jatim). |
Oleh: Novi Istina
Menatap beku SK (baca: Surat Keputusan) yang meringkuk pasrah di meja kamar saya yang kaku. Malam itu, mata saya tak sanggup terpejam, betambah lagi amanah, berarti bertambah pula tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapanNya. Dalam episode yang sama peristiwa ini terjadi sepuluh tahun silam, saat diri ini harus memikul amanah menjadi kepala suku organisasi kepenulisan yang bervisi pencerahan, Forum Lingkar Pena (FLP).
SK kepengurusan itu seolah mengajak saya untuk membuka lembaran kisah lama yang barangkali saat itu 'gagal' saya maknai dengan hati nurani terdalam. Bergabung dalam Forum Lingkar Pena, bagi saya, seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia semester tiga waktu itu adalah sebuah puncak pencapaian idealisme yang sempurna. Setelah dua tahun menjadi anggota FLP Cabang Malang, meski tergolong anggota yang jarang hadir, di tahun 2005, entah bagaimana awalnya hingga kemudian saya didaulat menjadi pucuk pimpinannya. Dengan sangat 'terpaksa', akhirnya saya harus mengemban amanah sebagai ketua umum pertama FLP Ranting Universitas Negeri Malang (UM).
Ketua yang 'gagal' begitu berulang-ulang saya katakan jika saya kebetulan diundang di acara-acara FLP setahun setelah saya lengser dari kepengurusan. Bukan tanpa sebab, karena hingga di akhir kepengurusan saya tak juga punya karya untuk dibukukan. Ah, malunya tak terkatakan
ratap saya dalam hati pada diri sendiri. Meski saat itu mendapat 'back up' langsung dari dosen jurusan sebagai pembina, tak begitu signifikan mempengaruhi ritme goresan demi goresan pena saya untuk menjadi seorang penulis produktif, dengan karya layak jual. Sungguh menyedihkan, balada ketua FLP UM yang gagal. Hingga kemudian kata itu seolah menguap menjadi katarsis atas cita yang melangit harap menjadi seorang penulis terkenal.
Namun, setelah satu dasawarsa saya lewati, entah mengapa Allah skenariokan lagi untuk berada dalam barisan para pejuang pena ini. Bermula dari ide untuk menggagas sebuah komunitas pecinta sastra di kota Pisang, Lumajang. Ide ini kemudian kami (saya yang pernah punya pengalaman di FLP dan beberapa teman yang aktif dalam forum majelis pekanan) realisasikan dalam bentuk kegiatan diskusi sastra bertajuk bincang sastra dengan memilih satu di antara sekian novel 'best seller' milik mbak Asma Nadia yang diharapkan dapat menarik kehadiran para pecinta sastra di Lumajang. Jadilah, novel Cinta di Ujung Sajadah menjadi bahan bincang sastra kami malam itu. Seru, lucu, sekaligus menjadi awal perkenalan kami dengan para peserta yang hadir saat itu yang otomatis juga didaulat menjadi pengurus dari keluarga besar FLP Cabang Lumajang.
Dari pertemuan itu, berkumpul sepuluh orang yang mayoritas perempuan. Kami beharap pertemuan ini tak hanya menjadi ajang silaturahim saja, tetapi lebih dari itu, akan menjadi sebuah 'embrio' terbentuknya Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Lumajang. Dan, alhamdulillah harapan itu terwujud, hingga di penghujung bulan September yang lalu FLP Cabang Lumajang lahir. Dan, lagi-lagi Allah skenariokan saya menahkodahi bahtera organisasi ini lewat 'penunjukan' secara aklamasi bersama sepuluh awak pengurus yang terbagi dalam bidang-bidang, alasannya sederhana hanya karena saya punya 'sedikit' bekal, yakni pernah menjadi ketua yang 'gagal'. Hahahaha...
Membersamai FLP membuat saya semakin bersyukur atas skenario Allah yang maha indah. Bahkan, hingga saat ini lidah saya seakan masih kelu, tak sanggup mengeja makna demi makna atas limpahan nikmat berupa kesempatan berada dalam barisan pejuang pena di sisa usia saya yang tak lagi muda. Berharap beroleh kemanfaatan yang barokah untuk bekal pulang nanti.
FLP yang saya kenal memang beda. Beda, karena di sini saya tak hanya dibekali untuk sekedar menjadi penulis yang produktif, terkenal, dan penghasil karya-karya besar. Tetapi juga dibekali banyak nilai plus yang yang lain.
Heheheh, serunya ini nih yang bikin selalu rindu menggebu tak ada duanya.
Aktifitas menulis dan berdakwah di FLP tak bisa dipisahkan, keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menulis, bagi saya bukan hanya kegiatan menuangkan ide, tetapi keselarasan antara pikir dan hati yang saling menerjemahkan. Karenanya, di antara keduanya dibutuhkan harmoni. Sementara harmoni ini tercipta dari pena-pena mujahid/ah sebagai wujud ekspresi kejujuran jiwa hingga menghasilkan goresan bermakna dari tinta-tinta cinta yang mengejawantahkannya. Hanya di sini, di Forum Lingkar Pena inilah saya temukan definisi tentang menulis yang berbeda. Lewat tinta cinta yang harmonis ternyata akan menghasilkan tulisan yang tak hanya mencerahkan tetapi akan menjadi perantara bagi jiwa-jiwa yang haus akan pencarian pada cintaNya yang sempurna. Tak berlebihan jika kemudian untuk kesekian kalinya saya harus jujur pada hati nurani saya, dan saya katakan kepadanya (FLP) bahwa ah... "Saya sunguh jatuh cinta".
Cerpen ini dimuat pada Antologi Kisah Inspiratif FLP Jawa Timur: Istana Yang Dibangun Dari Kata-Kata (2016. Sidoarjo: Syams Media).
SK kepengurusan itu seolah mengajak saya untuk membuka lembaran kisah lama yang barangkali saat itu 'gagal' saya maknai dengan hati nurani terdalam. Bergabung dalam Forum Lingkar Pena, bagi saya, seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia semester tiga waktu itu adalah sebuah puncak pencapaian idealisme yang sempurna. Setelah dua tahun menjadi anggota FLP Cabang Malang, meski tergolong anggota yang jarang hadir, di tahun 2005, entah bagaimana awalnya hingga kemudian saya didaulat menjadi pucuk pimpinannya. Dengan sangat 'terpaksa', akhirnya saya harus mengemban amanah sebagai ketua umum pertama FLP Ranting Universitas Negeri Malang (UM).
Ketua yang 'gagal' begitu berulang-ulang saya katakan jika saya kebetulan diundang di acara-acara FLP setahun setelah saya lengser dari kepengurusan. Bukan tanpa sebab, karena hingga di akhir kepengurusan saya tak juga punya karya untuk dibukukan. Ah, malunya tak terkatakan
"Ketua FLP ndak punya buku? Kasihan deh lu!",
ratap saya dalam hati pada diri sendiri. Meski saat itu mendapat 'back up' langsung dari dosen jurusan sebagai pembina, tak begitu signifikan mempengaruhi ritme goresan demi goresan pena saya untuk menjadi seorang penulis produktif, dengan karya layak jual. Sungguh menyedihkan, balada ketua FLP UM yang gagal. Hingga kemudian kata itu seolah menguap menjadi katarsis atas cita yang melangit harap menjadi seorang penulis terkenal.
Namun, setelah satu dasawarsa saya lewati, entah mengapa Allah skenariokan lagi untuk berada dalam barisan para pejuang pena ini. Bermula dari ide untuk menggagas sebuah komunitas pecinta sastra di kota Pisang, Lumajang. Ide ini kemudian kami (saya yang pernah punya pengalaman di FLP dan beberapa teman yang aktif dalam forum majelis pekanan) realisasikan dalam bentuk kegiatan diskusi sastra bertajuk bincang sastra dengan memilih satu di antara sekian novel 'best seller' milik mbak Asma Nadia yang diharapkan dapat menarik kehadiran para pecinta sastra di Lumajang. Jadilah, novel Cinta di Ujung Sajadah menjadi bahan bincang sastra kami malam itu. Seru, lucu, sekaligus menjadi awal perkenalan kami dengan para peserta yang hadir saat itu yang otomatis juga didaulat menjadi pengurus dari keluarga besar FLP Cabang Lumajang.
Dari pertemuan itu, berkumpul sepuluh orang yang mayoritas perempuan. Kami beharap pertemuan ini tak hanya menjadi ajang silaturahim saja, tetapi lebih dari itu, akan menjadi sebuah 'embrio' terbentuknya Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Lumajang. Dan, alhamdulillah harapan itu terwujud, hingga di penghujung bulan September yang lalu FLP Cabang Lumajang lahir. Dan, lagi-lagi Allah skenariokan saya menahkodahi bahtera organisasi ini lewat 'penunjukan' secara aklamasi bersama sepuluh awak pengurus yang terbagi dalam bidang-bidang, alasannya sederhana hanya karena saya punya 'sedikit' bekal, yakni pernah menjadi ketua yang 'gagal'. Hahahaha...
Membersamai FLP membuat saya semakin bersyukur atas skenario Allah yang maha indah. Bahkan, hingga saat ini lidah saya seakan masih kelu, tak sanggup mengeja makna demi makna atas limpahan nikmat berupa kesempatan berada dalam barisan pejuang pena di sisa usia saya yang tak lagi muda. Berharap beroleh kemanfaatan yang barokah untuk bekal pulang nanti.
FLP yang saya kenal memang beda. Beda, karena di sini saya tak hanya dibekali untuk sekedar menjadi penulis yang produktif, terkenal, dan penghasil karya-karya besar. Tetapi juga dibekali banyak nilai plus yang yang lain.
Plus dakwah, plus kerja sama, plus saudara, dan plus-plus yang lain, hingga kadang FLP diplesetkan menjadi singkatan dari Forum Lingkar Plus.
Heheheh, serunya ini nih yang bikin selalu rindu menggebu tak ada duanya.
Aktifitas menulis dan berdakwah di FLP tak bisa dipisahkan, keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menulis, bagi saya bukan hanya kegiatan menuangkan ide, tetapi keselarasan antara pikir dan hati yang saling menerjemahkan. Karenanya, di antara keduanya dibutuhkan harmoni. Sementara harmoni ini tercipta dari pena-pena mujahid/ah sebagai wujud ekspresi kejujuran jiwa hingga menghasilkan goresan bermakna dari tinta-tinta cinta yang mengejawantahkannya. Hanya di sini, di Forum Lingkar Pena inilah saya temukan definisi tentang menulis yang berbeda. Lewat tinta cinta yang harmonis ternyata akan menghasilkan tulisan yang tak hanya mencerahkan tetapi akan menjadi perantara bagi jiwa-jiwa yang haus akan pencarian pada cintaNya yang sempurna. Tak berlebihan jika kemudian untuk kesekian kalinya saya harus jujur pada hati nurani saya, dan saya katakan kepadanya (FLP) bahwa ah... "Saya sunguh jatuh cinta".
Cerpen ini dimuat pada Antologi Kisah Inspiratif FLP Jawa Timur: Istana Yang Dibangun Dari Kata-Kata (2016. Sidoarjo: Syams Media).
![]() |
| Tentang Forum Lingkar Pena. |
Oleh: Dyah Rahmawati
"Ukuran jilbabnya sudah syar'i, tapi kok tonjolan di kepalanya sebesar mangkuk bakso? Pasti ngajinya di televisi, meniru artis-artis paling...hahaha".
Itu adalah isi sebuah status seseorang yang sempat mampir di beranda facebook ku beberapa pekan lalu. Membacanya membuat saraf motorikku otomatis mengarahkan telunjukku menyentuh kolom komentar. Baru empat huruf ku ketik, urung kulanjutkan, sadar kalau aku sejatinya tak kenal dengan si pemilik status itu, yang entah sejak kapan kami menjadi teman, atau mungkin teman dari temanku.
Yang jelas alasanku sederhana, yaitu mencegah perdebatan yang mungkin muncul setelah komentarku. Karena aku memang kurang sependapat dengan caranya menyampaikan sebuah kebenaran. Sebab kalau dilihat dari statusnya, sepertinya si pemilik status itu adalah orang yang paham tentang ilmu berpakaian muslimah. Pun aku tidak sependapat. Dan lagi, pastilah dia juga seorang penuntut ilmu. Kendatipun aku menyadari bahwa seorang penuntut ilmu juga manusia, yang kadang bisa sakit.
Disepakati atau tidak, sebuah kebenaran akan lebih cepat sampai dengan contoh aksi langsung, didukung dalil yang kuat, serta kalimat yang lugas alias tidak ambigu. Bukan dengan sindiran permanen yang di arahkan pada satu orang tapi berharap representatif.
Jika tidak, alih-alih nasehat itu sampai kepada sasaran, malah meleset, nyaris mubadzir. Kalau saja Alloh Azza wa Jalla tidak menghendaki kebaikan, antara si penyampai dan sasarannya, niscaya tidak akan mengena sama sekali.
Ternyata melalui sebuah status di facebook, aku jadi sempat memikirkan banyak hal. Yang akhirnya membawaku sampai pada kesimpulan. Bahwa jika kita memang berniat untuk menyampaikan sebuah kebenaran kepada seseorang, dekati saja dia dengan ilmu, karena mungkin dia memang benar-benar tidak tahu. Bukan dengan lemparan batu. Karena jika batu itu mengenainya, dia akan lemparkan kembali batunya, jika tidak mengenainya, dia tidak akan menghampiri batu itu.
Sebab, disadari atau tidak, gaya busana muslimah zaman sekarang cukup mampu memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan Islam. Banyak muslimah mulai 'percaya diri' menutup aurat, baik dengan ilmu atau tidak. Maka tugas penuntut ilmu adalah menyampaikan yang haq dan esensial dari itu.
Menyadari hal ini, hadirnya FLP Lumajang bisa menjadi jembatan bagi para penuntut ilmu untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik,lebih arif, ramah tapi tegas, dan tidak menyakiti. Dengan kata lain, FLP dan sebuah status di beranda facebookku ku anggap sebagai hadiah menarik di penghujung tahun 2015. Dan aku merasa tak perlu menunda untuk segera bergabung dengan serius, jika aku masih ingin kebagian peran dalam berebut kebaikan. Karena diam tanpa menyampaikan kebenaran yang sudah kita ketahui, bukanlah sebuah pilihan.
Itu adalah isi sebuah status seseorang yang sempat mampir di beranda facebook ku beberapa pekan lalu. Membacanya membuat saraf motorikku otomatis mengarahkan telunjukku menyentuh kolom komentar. Baru empat huruf ku ketik, urung kulanjutkan, sadar kalau aku sejatinya tak kenal dengan si pemilik status itu, yang entah sejak kapan kami menjadi teman, atau mungkin teman dari temanku.
Yang jelas alasanku sederhana, yaitu mencegah perdebatan yang mungkin muncul setelah komentarku. Karena aku memang kurang sependapat dengan caranya menyampaikan sebuah kebenaran. Sebab kalau dilihat dari statusnya, sepertinya si pemilik status itu adalah orang yang paham tentang ilmu berpakaian muslimah. Pun aku tidak sependapat. Dan lagi, pastilah dia juga seorang penuntut ilmu. Kendatipun aku menyadari bahwa seorang penuntut ilmu juga manusia, yang kadang bisa sakit.
Meski seringnya, para penuntut ilmu ini meremehkan penyakit yang mungkin bisa saja menjangkitinya. Yaitu, menggebu-gebu terhadap orang lain, tapi bersantai-santai terhadap diri sendiri.
Disepakati atau tidak, sebuah kebenaran akan lebih cepat sampai dengan contoh aksi langsung, didukung dalil yang kuat, serta kalimat yang lugas alias tidak ambigu. Bukan dengan sindiran permanen yang di arahkan pada satu orang tapi berharap representatif.
Jika tidak, alih-alih nasehat itu sampai kepada sasaran, malah meleset, nyaris mubadzir. Kalau saja Alloh Azza wa Jalla tidak menghendaki kebaikan, antara si penyampai dan sasarannya, niscaya tidak akan mengena sama sekali.
Ternyata melalui sebuah status di facebook, aku jadi sempat memikirkan banyak hal. Yang akhirnya membawaku sampai pada kesimpulan. Bahwa jika kita memang berniat untuk menyampaikan sebuah kebenaran kepada seseorang, dekati saja dia dengan ilmu, karena mungkin dia memang benar-benar tidak tahu. Bukan dengan lemparan batu. Karena jika batu itu mengenainya, dia akan lemparkan kembali batunya, jika tidak mengenainya, dia tidak akan menghampiri batu itu.
Sebab, disadari atau tidak, gaya busana muslimah zaman sekarang cukup mampu memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan Islam. Banyak muslimah mulai 'percaya diri' menutup aurat, baik dengan ilmu atau tidak. Maka tugas penuntut ilmu adalah menyampaikan yang haq dan esensial dari itu.
Menyadari hal ini, hadirnya FLP Lumajang bisa menjadi jembatan bagi para penuntut ilmu untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik,lebih arif, ramah tapi tegas, dan tidak menyakiti. Dengan kata lain, FLP dan sebuah status di beranda facebookku ku anggap sebagai hadiah menarik di penghujung tahun 2015. Dan aku merasa tak perlu menunda untuk segera bergabung dengan serius, jika aku masih ingin kebagian peran dalam berebut kebaikan. Karena diam tanpa menyampaikan kebenaran yang sudah kita ketahui, bukanlah sebuah pilihan.
![]() |
| Foto: Courtesy Youtube/TransTV. |
Oleh: Hadi Wasito
Doa bukan sekedar pinta
Tak cukup hanya kata-kata untuk menggapainya
Dibutuhkan niat dan aksi nyata untuk mewujudkannya..............
Hanya kepasrahan jiwa yang mampu menyingkap tabirnya
Sang mentari masih tersenyum untukmu
Sambut hari baru dengan senyum indahmu
Syukuri harimu buang rasa galaumu
Terbitkan semangat lupakan luka lara
panjatkan doa dan ayunkan langkah
persembahkanlah hidup yang terindah
burung-burung bernyanyi memecah sepi
senyum wajahmu damaikan hati
syukur atas segala karunia-Nya
kejarlah mimpi tegarkan hati
doa dalam niatmu sabar dalam langkahmu
persembahkanlah hidup yang terindah
ayunkanlah langkahmu buang resahmu
nikmati suka dukamu hapus dendam bencimu
yakinkan mimpi kuatkan hati
doa dalam langkahmu perbaiki harimu
persembahkanlah hidup yang terindah
menuju PANGGUNG IMPIAN
*****
Red: Puisi ini dibacakan oleh Choky Sitohang, Host Panggung Impian di TransTV. Saat penulis puisi Hadi Wasito, yang juga seorang desainer grafis penderita Celebral Palsy asal Lumajang diundang pada acara tersebut. Satu hal yang dapat kita ambil dari frame ini, bahwa kehidupan tak sepahit yang kita bayangkan jika kita lewati dengan impian dan senyuman. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan dalam segala urusan dan diluaskan rejeki oleh-Nya, aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)



